Kawasan Ekonomi Khusus dan Aspek Hukum Ekonomi Internasional

  • Cecep Sutrisna Universitas Langlangbuana
Keywords: Kawasan Ekonomi Khusus, WTO, domestik

Abstract

Rezim ekonomi internasional telah memasuki fase baru penegasan kembali kedaulatan oleh negara. Pelembagaan nilai-nilai ini telah berpindah dari tata kelola internasional (ke regional) ke tingkat domestik hal ini diterapkan negara mengikuti nilai-nilai hukum ekonomi internasional. Sebuah bentuk baru dari hukum ekonomi nasional hal ini menjadi penting dalam pengembangan hukum dan institusi internasional dan domestik. Perkembangan kawasan ekonomi khusus sebagai bentuk baru hukum ekonomi nasional yang merupakan bagian sistem hukum ekonomi internasional. Unilateralisme zona ekonomi khusus baru mewakili jalan tengah antara liberalisasi sepihak dan unilateralisme agresif. Dengan demikian, unilateralisme zona ekonomi khusus memperkenalkan lapisan baru dalam keseluruhan sistem hukum ekonomi internasional. Pertama, kawasan ekonomi khusus mewujudkan kompromi baru antara Negara dan pasar. Promosi bisnis dan investasi yang dikendalikan negara yang berlangsung melalui zona ekonomi khusus merupakan kompromi yang kompleks antara liberalisasi dan perlindungan kedaulatan ekonomi. Kedua, promosi perdagangan dan investasi melalui kawasan ekonomi khusus berbeda dengan hukum ekonomi internasional. Liberalisasi perdagangan dan investasi tidak terjadi untuk seluruh negara tetapi untuk yurisdiksi yang terisolasi dalam yurisdiksi nasional yang lebih luas. Secara keseluruhan, unilateralisme zona ekonomi khusus baru memberikan wawasan tentang masa depan hukum ekonomi internasional seperti yang dibayangkan oleh Negara. Zona ekonomi khusus telah digunakan oleh Negara baik sebagai alternatif dan sebagai pelengkap promosi perdagangan dan investasi melalui instrumen hukum ekonomi internasional.

References

Adam, Latif, 2007, Perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) : Kasus di beberapa negara.
Chandra Bachtiar, Model Alternatif Peran Pemerintah Dalam Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia
Connie Carter and Andrew Harding, Special Economic Zones in Asian Market Economies (London: Routledge, 2010)
Hidayat, Agus Syarif, 2010, Quo Vadis Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Rajagrafindo persada, Jakarta.
Johansson, Helena and Nilson, 1997, Export Processing Zone as Catalyst, World Development, Vol. 125, No.12, pp. 2115-2128.Prabowo, 2010.
Paul Bairoch and Susan Burke, ‘European trade policy, 1815–1914’, in Peter Mathias and Sidney Pollard (eds), The Cambridge Economic History of Europe from the Decline of the Roman Empire (Cambridge: Cambridge University Press,
1989Xiangming Chen, ‘The Evolution of Free Economic Zones and the Recent Development of Cross-National Growth Zones’, 19 International Journal of Urban and Regional Research 593 (2009)
Prabowo, 2010, Kawasan Ekonomi Khusus : Landasan Konseptual dan pengalaman dari negara-negara lain, dalam Quo Vadis Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Rajagrafindo persada, Jakarta
Simon Lester and Inu Manak, ‘A Proposal for a Committee on National Security at the WTO’, 30 Duke Journal of Comparative and International Law 267 (2020).
Special Economic Zones: A Catalyst for International Trade and Investment in Unsettling Times?’, 20 Journal of World Investment & Trade 34 (2019)
Published
2022-11-11